September 30, 2021 | Inspiration

Syamsudin Ilyas: Kembali Berbagi Ilmu ke Kampung Halaman

Ada pepatah yang mengatakan, “Tuntutlah ilmu sampai negeri China.” Maksud pepatah ini kurang lebih mendorong kita untuk mengejar ilmu sejauh dan setinggi mungkin. Namun sebetulnya ada berapa orang yang bersedia kembali lagi ke kampung halaman setelah pergi keluar? Inilah kisah inspiratif Syamsudin Ilyas, jurnalis yang bersedia pulang ke Kalibaru dan berbagi ilmu keahliannya kepada anak-anak.

Syamsudin Ilyas adalah seorang freelancer berusia 38 tahun. Tidak hanya seorang mantan jurnalis, ia juga adalah founder Kelas Jurnalis Cilik. Kelas ini mengumpulkan anak-anak di pesisir Cilincing untuk belajar berbagai ilmu tentang jurnalistik dan fotografi. Tahun ini, murid-muridnya sudah memasuki Angkatan keempat.

Syamsudin Ilyas: Kembali Berbagi Ilmu ke Kampung Halaman

Menurut laki-laki yang biasa dipanggil Ilyas ini, Kelas Jurnalis Cilik Angkatan keempat sudah berjalan 2 bulan. Nantinya, seperti kelas-kelas sebelumnya, kelas ini akan dilaksanakan selama 4 bulan dan diakhiri dengan sebuah pameran hasil karya foto jurnalistik anak-anak. Pameran ini sudah terkenal bahkan pernah diliput oleh media-media nasional, seperti Kompas, Tempo, Kumparan, dan lain-lain.

Berdirinya kelas terbuka ini karena kepedulian Ilyas dengan perubahan anak-anak di Kalibaru, Cilincing. Kalibaru adalah kampung halaman sekaligus tanah kelahirannya. Saat kembali ke sana, ia melihat adanya perubahan dalam diri anak-anak di sana, baik dari segi pergaulan, bahasa, dan lain-lain. Ia melihat bagaimana anak-anak di sana lebih dewasa dari anak-anak seumuran lainnya.

Prihatin dengan hal ini, Ilyas pun mulai memikirkan untuk membuka kelas untuk mengumpulkan anak-anak. Bahan belajarnya adalah ilmu yang ia dapatkan di luar, pengetahuan jurnalistik. Ia ingin membagikan dunia jurnalistik ke dalam dunia anak-anak ini. Ide ini sudah mulai terbentuk tahun 2015. Namun karena masih bekerja, hal ini pun tertunda hingga ia mengundurkan diri tahun 2018. Pada bulan Juli tahun yang sama, dimulailah Kelas Jurnalis Cilik pertama.

Saat ini, anak-anak yang masuk kelas umumnya masih berada di sekolah dasar. Sebelumnya ada juga anak-anak SMP yang ikut belajar, tetapi tidak banyak yang bisa bertahan hingga pameran penutup. Program untuk anak-anak belajar bersama ini juga sudah melewati banyak rintangan.

“Awalnya kami kesulitan karena memperkenalkan dunia jurnalistik pada anak-anak itu lumayan susah, karena pasti mereka bertanya-tanya, apa sih jurnalistik itu?” kata Ilyas dalam wawancara bersama Zoleka. Para volunteer pun memikirkan banyak cara, termasuk salah satunya dengan sebuah kamera imaji. Sebuah kardus dilubangi 5 cm menjadi kamera imajiner yang memperlihatkan rumah dan kampung halaman mereka dari sudut pandang baru.

Ini pun menjadi pemantik semangat dan rasa ingin tahu anak-anak tentang dunia jurnalistik. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak media yang mengenalkan program ini kepada masyarakat. Mereka terutama memperlihatkan bagaimana karya foto anak-anak tidak kalah dengan jurnalis dan fotografer lain. Makin banyak dukungan yang datang dalam berbagai bentuk, salah satunya dalam bentuk tenaga pengajar. Sekarang Kelas Jurnalis Cilik adalah sebuah program matang dan berkelanjutan yang intens menemani anak-anak selama 4 bulan.

Syamsudin Ilyas: Kembali Berbagi Ilmu ke Kampung Halaman

Bahkan anak-anak kelas angkatan kedua pernah mengeluarkan sebuah buku foto. Photobook berjudul “My World, My Eyes” ini dikurasi langsung oleh orang-orang Belanda. Tidak hanya itu, karya foto anak-anak juga pernah dipamerkan di berbagai acara nasional dan internasional, misalnya Jakarta International Photo Festival. Beberapa bulan lalu, anak-anak juga diundang tim Hitam Putih dan bertemu dengan Deddy Corbuzier.

Karya anak-anak tidak hanya dipamerkan. Ilyas berkata sejak pameran foto angkatan pertama Kelas Jurnalis Cilik, selalu diadakan sebuah pelelangan baik secara online maupun offline. Nantinya hasil pelelangan ini juga akan diberikan sebagian untuk anak-anak. Anak-anak sangat senang mereka bisa menghasilkan uang sendiri. Sisa karya yang lain dipajang di rumah Kelas Jurnalis Cilik hingga sekarang.

Pada 19 September kemarin, tim Zoleka melihat anak-anak sedang bersiap untuk menyambut pameran baru mereka 20 November nanti. Salah satu volunteer sengaja datang untuk membantu anak-anak menyimulasikan pameran baru mereka. Anak-anak sangat bersemangat ikut dalam kelas tersebut. Saat hujan turun pun, suara ceria mereka tetap terdengar di bawah teduhan saung. Bahkan ada anak yang berlari bermain di hujan atau turun berenang di laut.

Keceriaan anak-anak telah kembali. Namun misi Ilyas belum berakhir. Ia berharap Kelas Jurnalis CIlik bisa terus bertahan dan memperkenalkan kearifan lokal masyarakat pesisir lewat karya anak-anak. Kisah inspirasi Ilyas mengajarkan tidak hanya kesuksesan di luar saja yang bersinar. Berbagi kebahagiaan di kampung halaman dengan ilmu yang dimiliki juga adalah hal bermakna dalam.

Simak kisah-kisah menarik dan inspiratif lainnya disini. Temukan juga kebutuhan urban sport apparels yang bisa Zolekawan lihat di katalog produk maupun official shop kami di Lazada, Tokopedia, dan Shopee.

Filed in: kampung halaman