April 19, 2021 | Inspiration

Jeanny Primasari: Gaya Hidup “Zero Waste” untuk Lingkungan Indonesia yang Berkelanjutan

Masih ingatkah dipikiran kita ajaran orang tua mengenai kebiasaan mematikan lampu di ruangan yang sudah tidak digunakan? Atau mungkin yang paling banyak didengar adalah tentang membuang sampah pada tempatnya? Barangkali gaya hidup tersebut menjadi hal pertama yang kita pelajari saat kecil untuk hidup bersih, bijaksana, tanggung jawab, dan peduli terhadap lingkungan. Pada akhirnya muncullah gaya hidup yang berkomitmen untuk menjaga keharmonisan alam dengan memori sederhana masa kecil tersebut dan membawanya ke level yang lebih tinggi. Salah satunya adalah Jeanny Primasari.

Jeanny adalah salah satu pribadi yang memiliki ketertarikan dan harapan untuk mewujudkan lingkungan yang berkelanjutan. Jeanny yang merupakan pendiri komunitas Zero Waste Nusantara mengajak masyarakat Indonesia untuk membuat pilihan-pilihan berkelanjutan dan ramah lingkungan. Sesuai dengan nama komunitasnya, zero waste berarti nol sampah dimana tujuan dari komunitas ini adalah untuk mewujudkan Indonesia yang nol sampah atau minimum sampah. Jeanny menjelaskan bahwa pergerakan komunitas ini sekiranya dapat mendorong masyarakat untuk sebisa mungkin tidak memproduksi sampah. “Beli barang tanpa kemasan, terus barang yang sudah dipakai kalau punya fungsi yang mirip dengan barang lain bisa dimanfaatkan lagi”, jelas Jeanny.

Kepedulian terhadap lingkungan merupakan hal yang penting untuk disadari dan dimiliki. Jeanny menyampaikan bahwa bumi sudah mencapai kapasitas maksimumnya untuk menahan segala keburukan yang manusia lakukan. Perubahan di bumi ini sudah kita rasakan, mulai dari grafik emisi karbon yang mencuat naik, iklim yang tidak terprediksi, dan bencana alam seperti banjir atau kebakaran yang tidak menentu terjadi di berbagai daerah. “Kita banyak banget PRnya, setiap orang harus mengeluarkan effort yang cukup untuk menjaga lingkungan”, tutur Jeanny.

Jeanny sebagai seorang ibu menyadari bahwa perempuan memiliki sifat pemelihara. Oleh karenanya, Jeanny memberikan dukungan secara utuh untuk perempuan-perempuan yang memiliki semangat untuk memulai pilihan-pilihan berkelanjutan di skala rumah tangga. “Perempuan harus menyadari bahwa mereka punya potensi dan kemampuan untuk mewujudkannya. Perempuan harus punya keyakinan bisa mengajak keluarganya untuk menjalakan gaya hidup zero waste”, ungkap Jeanny. Ibu rumah tangga bisa memulai dari memilah sampah, mencoba composting sampah, dan lain sebagainya.

Tantangan yang dihadapi pada saat ini adalah sifat manusia yang mementingkan dirinya sendiri dan mencari keuntungan untuk diri sendiri. Jeanny berkata bahwa pendekatan untuk memengaruhi orang-orang adalah dengan mencari irisan kepentingan antara lingkungan dan kebutuhan manusia. Misalnya dengan menjelaskan fakta-fakta seperti microplastik yang ditemukan di dalam tubuh manusia melalui makanan yang dikonsumsi atau faktor ekonomi yang lebih irit jika memakai popok bayi ramah lingkungan maupun menstrual cup yang sifatnya jangka panjang. Hal ini tentu harus disampaikan secara berulang ke masyarakat untuk menciptakan mentalitas dan karakter yang mendukung lingkungan.

Jeanny berharap bahwa pergerakan yang dilakukan melalui Zero Waste Nusantara dapat menginspirasi masyarakat untuk berani dan memulai ambil bagian menjadi agen perubahan dibidangnya masing-masing. Selain itu, langkah yang bisa masyarakat lakukan yaitu mendukung dan memiliki gaya hidup yang insiatif untuk mensukseskan regulasi yang telah dirancang dan dijalankan oleh pemerintah. Jeanny ingin kita semua, masyarakat Indonesia, bisa saling bersimpati dan bekerjasama secara bersinergi untuk menjaga lingkungan.

Kesadaran diri sendiri merupakan kunci dari gerakan berkelanjutan ini. Kesadaran bahwa manusia harus menghormati alam dan lingkungan serta kesadaran bahwa manusia tidak bisa hidup tanpanya. Jeanny telah menjelaskan mengenai perubahan yang sudah kita rasakan di bumi ini. Jika manusia memperlakukan alam dan lingkungan dengan buruk, maka dampaknya kepada semua makhluk hidup tidak akan baik. Dan sebaliknya, jika manusia menjaga lingkungan maka manusia juga mengaja kebudayaan. Hendaknya kita membuat alam dan lingkungan berkomunikasi dengan semestinya kepada kita. Manusia harus mengingat akan tanggung jawabnya untuk menjaga alam dan lingkungan agar generasi mendatang tetap bisa merasakan angin yang masih leluasa berhembus, melihat pohon-pohon yang masih tegak berdiri, serta hewan-hewan yang berlindung di dalamnya. Rasa hormat kita kepada lingkungan adalah rasa hormat kepada hidup dan diri sendiri.

Baca juga Inspiration lainnya di:

Syamsudin Ilyas: Kembali Berbagi Ilmu ke Kampung Halaman

Belajar Kembali Makna Kehidupan Bersama Devi Sumarno

Budi Sukses: Di Balik Ruang Belajar Anak Jalanan, Pemulung, dan Kurang Mampu

Adelina Anastasia: Pentingnya Berbagi Ilmu

Filed in: Gaya Hidup